(by : Rohma Roufina)
Gila! Capek juga! Tapi kalau dipikir-pikir, egois juga kalau aku terus nyiksa badanku buat duduk di bangku tanpa spon ini.Mungkin sudah empat jam aku duduk di sini. Tapi ya tak apalah. Ini memang makanan sehari-hariku tiap pulang sekolah. duduk, baca buku, dan sekali-kali melongok keluar jendela. Eits..melongok keluar jendela? Ngapain?!!! Sebenarnya tujuanku ke perpustakaan bukan 100% baca buku atau apalah, seperti yang dilakukan anak-anak rajin pada umumnya. Ya… kurang lebih 90% niatku adalah melongok keluar jendela. Kurang kerjaan? Emang! Tapi ini semua aku lakukan agar aku bisa ketemu dan memandang cewek yang aku suka selama ini. dia sering kesini.. dia sering ngobrol dengan pak sule, penjaga perpustakaan sekolah. Entah apa yang mereka bicarakan, yang penting aku kan, bisa ketemu!!!!! He..he.. kadang aku GR juga sih…. Apalagi kalau tuch cewek lagi kasih respon.. wow! Mau meleleh rasanya… oh Lia.. AI LOPE YU……^!
Agh..! udah lah! Wajahku bisa memerah jika aku terus membayangkan kecantikan Lia. Aku beranjak dari kursi dan memasukkan buku-buku yang dari tadi aku baca ke dalam rak. Tiba-tiba…. “GUBRAK!!!” tanpa sengaja buku-buku berjatuhan. Aku sendiri juga heran apa penyebabnya. Aku tidak menyentuhnya dan tidak ada orang lain disini. Pak Sule sudah pulang dan menyerahkan kunci kepadaku. Aku segera merapikan buku-buku itu. tapi tunggu dulu! Apa itu? Suraaat..!!? ada surat di antara buku-buku itu? penasaran? Jelas!aku segera membaca surat itu. Terus.. ya aku baca lah!
“Entah siapapun kamu yang akan membaca surat ini, aku hanya ingin bercerita. Cerita tentang sesuatu yang hanya terdiam. Sesuatu yang belum sempat dimengerti, dan sesuatu yang hanya terpendam…..”
Waduh! Puitis juga nih orang yang buat surat!Pujangga baru Pak? He..he..he.. tapi tiba-tiba aku merasakan hal yang aneh. Pandanganku seketika menjadi buram dan buram dan buram dan gelap dan….
“heh, bangun..!kamu nggak apa-apa kan?”
Aku mencoba untuk membuka mataku. Meski agak buram, sejenak sempat aku terkejut. Di depan ku ada seorang cewek cantik yang belum pernah aku kenal. Begitu juga dengan anak-anak di sekitarku. Aku tidak kenal satupun dari mereka.
“Woi!malah bengong! Kamu nggak apa-apa kan?” Kata cewek tadi“kamu? Kalian? Siapa?” tanyaku bingung.“Waduh, konslet nih anak! Masa’ kejedot lemari aja, bisa hilang ingatan? Aku Nining. Ingat kan?”“Nining? Mereka? Pak Sule mana? Dia masih di gerbang?” tanyaku heran.“Pak Sule siapa sich? Halah..! nggak usah banyak gaya,kita harus cepat-epat cari artikel” kata Nining jutek“Tapi aku benar-benar nggak kenal kalian semua” bantahku"Aaaagh..! kamu mau terus ngoceh atau ngikut aku? Hah..?” bentak Nining.
Gila nih cewek, ditanya baik-baik malah nyolot! Aku segera beranjak dan terpaksa mengikuti langkah cewek itu. karena Cuma dia yang ak kenal. Tiba-tiba..”BRUK”
“hoi..! kalau berhenti ngomong dong!”bentaku. tapi Nining tetap diam. Matanya tertuju pada sesuatu. Seorang cowok. “hoi..! lihat apaan? Cowok? Hua..ha..ha suka? Mukanya merah tuh!” ledekku.
______________________+++___________________________
Sejak kejadian satu bulan yang lalu, Nining selalu bilang kalau aku hilang ingatan. Dia berusaha menolongku agar aku mengingat semuanya. Tapi, apa yang mau diingat? Tahu aja, juga nggak! Andi, Toni, Risa, Lia semuanya nggak ada. Yang aku tahu di sini Cuma ada Nining, uli, parman dan..Eman, cowok yang disukai Nining.Nining anak yang baik, sederhana, supel… jadi nggak heran kalau banyak cowok yang kagum sama dia. Termasuk aku.
Aku rasa, aku cukup ganteng untuk berangkat kerumah Nining. Meskipun Cuma pinjam buku, tapi kudu ngaca dulu dong..!
Ku lihat Nining sedang duduk sendiri di teras rumahnya. Matany terpejam dan kepalanya diletakkan diatas meja. Di sampingnya ada radio yang sedang melantunkan lagu mellow.
“Hoi! Ngapain?” kagetku.“heh..! dasar perusak suasana!” gerutu Nining.”Lagu apaan?” tanyaku sambil ikut mendengarkan lagu itu. “ck..ck..ck..,masih dipendam juga tuch perasaan?” tebakku, diikuti lirikan sadis dari Nining. “Eh..! marah! Lha itu, lagu apaan? Eman aku kagak tahu? Gitu aj pake nangis. Heh ! kalo tetep gig-gini aja, sampek tua juga nggak bakalan kesampaian” kataku panjang lebar.“Maksudmu?” Tanya Nining singkat.“Lho, iya kan? Lagian kalau dipikir, sama-sama suka kok diem-dieman, batin-batinan, GARING! Udah, ngomong aja..” kataku mengolok.“Aku kan cewek. Heh! Lagian, kamu nyadar nggak sich? Kamu itu sama aja ngolok diri kamu sendiri. Kamu sama Eman nggak ada bedanya. Kappan kamu ngomong ke Lia?” Tanya Nining penuh emosi.“Lia? Kamu kenal Lia? Sumpah!aku cari dia terus. Udah satu bulan ini dia menghilang.”“DOOOOLLL” kaget seorang anak kecil yang tiba-tiba mendekati Nining.“Siapa Ning?, adik?” tanyaku.“dia anak kakakku. Udah 2 hari dia di sini. Ibu dan bapaknya pergi keluar kota.”“adik namanya siapa?” tanyaku pada anak kecil itu.“Aulelia, kak” jawab anak kecil itu.“Aurelia.” Terang Nining kemudian.“Aurelia? Itu kan, nama depannya…” kataku bergumam.“Halo..! ngelamun? Ngapain kamu ngelihatin Lia? Naksir? Tahu diri dong! Lia masih kecil.”“Lia?”tanyaku heran“Udahlah,kamu tadi kesini mau pinjam soal-soal ujian kan? Satu minngu lagi ujian, masih sempat-sempatnya naksir anak kecil.” Kata nining sebal tarhadapku.
Dari mana nining tshu perasaanku terhadap Lia? Nining kenal sama Lia? Lalu, nama anak kecil itu? namanya persis se[erti nama depan Lia ‘Aurelia’. Apa semua ini hanya serba kebetulan belaka?
_________________________+++________________________
“AKU LULUS..! AKU LULUS..! AKU BEBAS..!”dari tadi aku teriak seperti orang gila. Tapi aku tidak sendiri.semua teman-temanku gila.semua anak 100% LULUS. Tapi ada satu yang aku herankan. Dari tadi Nining Cuma duduk, bengong,sambil lihat gerbang.
“Woi, seneng dong! Kita lulus!” kagetku“Hari ini, hari kelulusan dan hari terakhir kita di SMA. Cepet juga ya?” kata Nining.“iya aku ngerti! Tapi kamu kok kusut gitu?” tanyaku. “o, aku tahu, kamu pasti mikirin eman! Nining.. nining.. dulu aku mau bantu kamu ngomong ke Eman soal perasaan kamu, tapi kamu cegah. Suruh bilang sendiri nggak mau. Katanya karena ceweklah apalah!” kataku panjang lebar.“Andre, jamanku beda dengan jamanmu. Duniaku juga beda dengan duniamu. Aku pengen seperti kamu. Hilang ingatan dan Lia juga masih kecil.” Kata Nining bergumam.“Lia? Apa maksudmu? Sumpah! Kamu buat aku bingung!” kataku kesal.“Coba kamu lihat gerbang sekolah itu. Setelah kamu melewatinya, kamu akan terlepas dari SMA. Bila kamu kembali kamu nggak akan menemukan kisah-kisahmu dulu. Seperti kisahku yang hanya akan menjadi anganku, dan tersimpan dalam surat ini.” kata Nining sambil menyodorkan sepucuk suart kepadaku.“Surat ini kan..?”
Nining tidak di sampingku lagi. dia berjalan kea rah gerbang denga tatapan kosong. Dia berhenti sebentar dan menengok kebelakang untuk melihat dann tersenyum padaku. Lalu dia pun melakuka hal yang sama pada Eman yang sedari tadi memperhatikannya. Nining kembali meneruska langkahnya. Tiba-tiba dari utara ada pick up yang membawa kelapa melaju kea rah Nining dan… “GUBRAK”.
“Nining..!” teriakku.
Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku langsung berlari ke arah Nining, tapi tiba-tiba Eman menubrukku dari belakang. Dia berteriak memanggil nama Nining. Seketika itu Eman bersikap histeris. Kepalaku pusing melihat pemandangan itu. pandanganku buram. Samar-samar ku dengar tangisan banyak anak.. aku tidak dapat meliahat lagi. nafasku terasa berat.semuangya menjadi…
“ibu? Di mana Nining?” tanyaku.“tenang, kamu baru pingsan selama 3 hari nak! Pak Sule yang bawa kamu kesini. Untung waktu itu Pak Sule belum pulang.” Jelas ibuku. “o iya.selama kamu pingsan, kamu terus menggenggam surat itu. dan nggak ada satu orang pun yangberhasil membuka genggaman tangan itu. Surat apa sih itu?”
_____________________________+++_________________________________
Semuanya begitu cepat, semuanya membuat aku bingung. Sekarang aku harus sampai ke perpustakaan dan menyerahkan surat ini lalu menceritakan semuanya kepada Pak Sule. Semoga saja beliau percaya dengan ceritaku. Dan aku pikir dia pasti tahu tentang surat ini, karena dialah penjaga perpustakaan, satu-satunya orang yang tahu tentang seluk-beluk perpustakaan ini. aku yakin semua ini bukan mimipi. Siapa tahu Pak Sule mengetahui sesuatu tentang surat ini dan bisa aku jaadikan petunjuk.
Aku menemukan Pak Sule sedang sibuk dengan pekerjaannya. Aku segera menghampiri dan meneritakan semuanya. Tapi sekarang aku semakin bingung. Pak sule malah Diam dan menunduk.
“kamu melakukan ini untuk mengatakan semuanya padaku, Ning..” kata Pak sule sedih.“Maaf Pak, Bapak kenal Nining?” selidikku“Eman adalah nama kecilku. Namaku SULEMAN. Sejak aku bekerja di sini, anak-anak sering memanggilku PAK SULE,” jelas Pak Sule.
“Jadi… bapak… yang disukai Nining? Tapi kan.. bapak sudah tua?”
“waktu itu, hari kelulusan. Aku mendapatkan nilai yang tinggi. Aku sangat gembira dan berniat untuk memberitahukan kegembiraanku kepada gadis yang telah lama aku suka, Nining. Selain itu, aku juga berniat untuk mengatakan semua yang aku rasakan pada nining. Aku mencarinya kemana, tapi akhirnya aku menemukanya, sedang berjalan menuju gerbang. Aku memanggilnya dan di pun menengok ke arahku sambil tersenyum. Tapi semuanya terlambat. Pick up itu telah mengambil nyawa Nining. Nining meninggal di pangkuanku,” kata Pak sule bercerita.
“jadi itu sebabnya, kenapa sampai sekarang Pak sule sering duduku melamun di dekat gerbang tiap sore?”“benar.” Jawab Pak Sule singkat.“Tapi kenapa aku yang mengalami semua iini?” tanyaku bergumam.“Karena kamu dan Lia saling menyukai, Nining itu tantenya Lia dari kecil Lia sering main kerumah Nining,”“Tapia apa maksud Nining..?”“Semuanya sudah jelas Andre…”
Aku langsung tersentak dengan kata-kata Pak Sule. Aku langsung meninggalkan Pak sule tanpa berpamitan. Yang ada di otakku cuma Lia. Aku harus mengatakkan semua perasaanku pada Lia. Aku tidak mau terlambat seperti Pak Sule.
Aku sudah cukup capek untuk mencari Lia. Sudah aku cari dia kemanapun juga. Sampai pojok-pojok sekolah yang jarang dilewati murid pun juga sudah. Aku mulai putus asa dan kuputuskan untuk kembali ke perpustakaan bersama Pak sule.
“Lia nggak ada Pak!” kataku putus asa, tapi Pak Sule Cuma tersenyum.“Andre..” ku dengaar suara memanggilku dari balik rak buku.“Lia? Kamu ad di sini? Jadi? Ka..ka..kamu dengar semuanya? Lia.. aku..ak..aku ku.. eh.. anu kamu..aduh..!maksedku…” kataku grogi.“PLAK…” Lia menamparku.“Andre.. kamu terlalu bodoh untuk mengerti perasaanku..” kata Lia.
Lalu……(o^,^o)………………….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar