Let's get Writing Culture..

Let's get Writing Culture..

Senin, 01 Maret 2010

Menerima Dan Mengolah Kritik “Pedas” Menjadi “Lezat Dan Sehat”


Mendengar kata “kritik” mungkin saja kita langsung merasa alergi. Kenapa? Yang terbayang pastilah pemaparan kesalahan dan kebodohan yang kita lakukan, apalagi disampaikan didepan publik dengan kata-kata yang menyakitkan. Namun disamping rasa sakitnya, ada hikmah beharga yang bisa kita ambil. Jika ingin memanfaatkann hikmah tersebut anda sebaiknya memperhaitikan beberapa langkah berikut. Semoga bermanfaat...
Remember That Learning (Ingat Pelajarannya)
Didunia penerbitan, sebelum sebuah buku diterbitkan, buku tersebut harus melalui suatu proses yaitu penyuntingan. Hal ini dilakukan karena seringkali seorang penulis sudah sangat terlibat dengan tulisannya sehingga dia tidak lagi bisa melihat kesalahan yang dilakukannya. Penyuntingan dilakukan oleh editor berupa penyempurnaan struktur kalimat, pilihan kata, dan sistematis rangkaian ide yang disampaikan. Hal ini dilakukan agar tulisan lebih mudah dimengerti dan lebih menarik untuk dibaca. Demikian pula halnya dengan kritik. Kritik bertujuan menjadikan kualitas objek kritikan lebih baik, yaitu dengan menunjukan hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Seringkali, orang yang sudah sangat terlibat dengan karyanya sendiri , tidak bisa melihat lagi hal-hal yang masih bisa diperbaiki. Jadi, agar hasil karya kita menjadi lebih sempurna PELAJARI MASUKAN YANG DITERIMA, INGAT-INGAT APA SAJA PELAJARAN YANG BISA DIPETIK untuk menjadikan suatu karya lebih baik.
Skip That Ill Will (Lupakan Sakit Hatinya)
Seringkali kita tidak bisa mengelak dari rasa sakit hati yang ditimbulkan oleh sebuah kritik (terutama jika disampaikan dengan kata-kata menyakitkan dan nada marah). Sebenarnya wajar saja jika kita merasa kurang nyaman menerima kritik tersebut. Namun, jangan biarkan ketidaknyamanan ini berlangsung lama. Kita sudah korban perasaan, mengapa tidak kita kompensasikan dengan mengambil MANFAAT pelajarannya. Jika ternyata banyak pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari kritik tersebut, maka sikap yang sebaiknya kita lakukan adalah “Ambil pelajarannya, LUPAKAN yang lain”. Jadi, terimalah kritik dengan LAPANG DADA, karena kritik merupakan salah satu sumber mata air untuk mengembangkan diri.
Choose That Relevance (Pilih yang Relevan)
Pendapat atau masukan orang lain tentang diri kita merupakan cermin dari tindakan dan sikap kita pada orang tersebut. Masukan yang kita dapat dari seseorang merupakan kesan yang didapat orang tersebut dari rangkaian tindakan kita. Kesan ini bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, antar lain: latar belakang pendidikan, budaya, ekonomi, dan kepribadian. Analisalah mengapa orang tersebut sampai mengeluarkan kritik seperti itu. Lalu, PILAH -PILAHLAH MANA YANG RELEVAN dan patut diperhatikan untuk diambil hikmahnya.
Make A Change (Lakukan Perubahan)
“Pengetahuan yang dimanfaatkan dengan baik merupakan sumber kekuatan”, demikian lah kata pepatah. Maksudnya, pelajaran yang sudah kita petik, jangan disimpan dalam hati saja. Manfaatkan pelajaran tersebut untuk MELAKUKAN PERUBAHAN yang mengarah pada perbaikan, karena memang itulah tujuan dari kritik, yaitu menunujukan  kelemahan yang harus diperbaiki agar menjadi lebih baik. 
(Diambil dari berbagai Sumber)
Analogi
Jika penjelasan diatas dirasa masih kurang bisa dimengerti, analogi dibawah ini bisa dijadikan contoh.
Seorang remaja sedang belajar memasak bakso. Dia bereksperimen dengan membuat berbagai macam bentuk dan rasa pentolnya. Ada pentol bentuk bulat, kotak, bentuk bunga, ada pentol kasar, pentol halus, pentol daging bandeng, pentol rasa keju, cokelat, strawberry, dan masih banyak lagi.




Nah.. ibaratkan semangkuk bakso dengan berbagai macam pentol tersebut adalah kritik. Ketika si remaja tersebut mencoba bakso tersebut, maka saat itulah dia sedang menerima kritik. Lalu dia mengambil hikmah dari apa yang pelajaran memasaknya.
Ternyata inti dari semangkuk bakso adalah ada pada pentolnya bukan pada gorengan, tahu atau kuahnya. Dari sini si remaja telah melakukan langkah pertama dari menerima kritik yaitu ingat pentolnya, Ingat Pelajarannya! Setiap kali dia mencicipi tiap macam pentol, tentu seringkali dia merasakan kepedasan dan rasa tidak enak. Tapi demi bisa merasakan tiap macam pentol agar dapat mengambil pelajarannya maka dia Lupakan Pedas dan Rasa Tidak Enaknya (baca: Lupakan Sakit Hatinya) lalu terus memakan pentol satu persatu. Kemudian dia mencocokan rasa tiap pentol dengan perkembangan selera masyarakat zaman ini lalu Memilih [Pentol] yang Relevan untuk  dibuat saat ini. Pentol rasa strawberry dan cokelat dirasa masih belum relevan dengan permintaan pasar. Untuk pentol daging sapi, berbentuk bulat atau kotak dirasa sudah terlalu umum dan ketinggalan zaman. Maka dipilihnya pentol dengan bentuk bunga, daging bandeng, dan rasa keju adalah pentol yang terbaik.



Pelajaran sudah diambil dan melupakan rasa tidak enaknya, pilihan pun sudah ditentukan, sekarang tinggal bagaimana tindak lanjutnya. Si remaja kemudian memasak bakso kembali tentunya dengan memperhatikan kesalahan – kesalahan yang telah dibuatnya agar tidak terulang dan Melakukan Perubahan - Perubahan dari masakan sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar